Hukum Makan Siput dalam Islam; Halal atau Haram?

Hukum Makan Siput dalam Islam; Halal atau Haram?

MajalahSmarteen.comApakah siput masuk dalam kategori hewan haram? Apa hukum makan siput dalam Islam? Kalau dimakan apakah berdosa? (Felina Klaten)

————

Sobat Smarten yang dimuliakan Allah ta’ala, sebelumnya perlu kita ketahui bahwa siput dalam bahasa Jawa disebut bekicot. Adapun dalam bahasa Arab diistilahkan dengan “halazun barri”.

Di beberapa negara, bekicot menjadi bahan baku makanan istimewa. Sebut saja misalnya di Perancis, salah satu makanan yang digemari di negara tersebut yaitu “escargot” berbahan baku bekicot. Di Jepang, bekicot juga sangat digemari. Tak mengherankan jika Perancis dan Jepang merupakan negara pengimpor bekicot. Bahkan di Jawa Timur, khususnya daerah Kediri, sebagian penduduknya membudidayakan bekicot untuk diolah menjadi keripik bekicot, sate bekicot, ataupun peyek bekicot.

Lantas, Bagaimana Hukum Makan Siput atau Bekicot dalam Islam?

Banyak peneliti yang menyimpulkan bahwa daging bekicot mengandung protein tinggi dan asam-asam amino. Selain itu, cangkangnya kaya akan kalsium. Inilah beberapa sisi positif bekicot yang mungkin menyebabkan sebagian kalangan gemar mengonsumsinya.

Terlepas dari sisi positif yang terkandung dalam bekicot, setiap insan muslim harus mengetahui hukum mengonsumsi bekicot atau hukum memakan siput.

Dalam berbagai referensi Fiqh dijelaskan bahwa para ulama khilaf (berselisih pendapat) terkait hukum mengonsumsi bekicot atau hokum makan siput. Mayoritas ulama mengharamkan dan ada sebagian kecil yang membolehkan.

Kalangan sebagian ulama yang menyatakan bekicot boleh dikonsumsi berpendapat bahwa hukum awal segala sesuatu itu boleh, selama belum ada dalil yang mengharamkannya.

Mereka menegaskan bahwa dalam Alquran atau hadis tidak ada satu teks syar’i pun yang menjelaskan tentang keharaman bekicot. Atas dasar inilah mereka mengambil simpulan tentang bolehnya mengonsumsi daging bekicot.

Jadi, Hukum Makan Siput Halal atau Haram?

Adapun mayoritas ulama Hanafiyaah, Syafi’iyyah, Hanabilah dan Dzahiriyyah cenderung mengharamkan bekicot. Para ulama yang mengharamkan bekicot berpendapat bahwa bekicot merupakan hasyarat (hewan-hewan tanah), yang tidak mengalirkan darah seperti; cacing, kalajengking, semut, lebah, kecoa, kutu, ular, dan sebagainya. Seluruh binatang tersebut haram dikonsumsi selain yang dikecualikan kehalalannya semisal belalang. Atas dasar inilah mereka menyebut hokum makan siput adalah haram.

Pendapat yang rajih (kuat) di antara dua pendapat ulama tersebut adalah, pendapat mayoritas ulama yang menerangkan bahwa bekicot haram dikonsumsi dengan beberapa alasan berikut;

Pertama, bekicot merupakan jenis hewan yang tidak mempunyai darah mengalir sehingga tidak dapat disembelih. Dalam Alquran Surah al-Maidah ayat 3 dijelaskan tentang haramnya mengonsumsi hewan yang tidak disembelih secara syar’i, karena hewan tersebut masuk dalam kategori bangkai.

Kedua, hukum makan siput haram karena siput atau bekicot masuk dalam kategori hewan yang menjijikkan. Standar dari penstatusan ini adalah pandangan umum khalayak manusia. Allah menegaskan dalam Alquran Surah al-‘Araf ayat 157 tentang haramnya segala sesuatu yang buruk (termasuk makanan atau minuman yang menjijikkan).

Bagaimana Menyikapi Perbedaan Pendapat Terkait Hukum Makan Siput ini?

Karenanya, sikap yang lebih baik bagi kita adalah sikap ihtiyat (hati-hati) untuk tidak mengonsumsi bekicot atau siput. Sikap hati-hati ini merupakan bentuk konsekuensi seorang muslim untuk senantiasa meninggalkan hal yang berbau syubhat. Karena melakukan hal syubhat sama saja dengan mendekati hal haram.

Terakhir, dalam konteks keindonesiaan, pada tahun 2012 Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengesahkan fatwa tentang haramnya mengonsumsi bekicot ataupun mengelola dan membudidayakannya untuk kepentingan konsumtif. Alasan pengharaman bekicot yang disampaikan MUI sama dengan pendapat-pendapat para ulama yang mengharamkan bekicot.

So, untuk Sobat Smarteen, tetapkan hati untuk tidak mengonsumsi bekicot, hingga kita benar-benar terhindar dari hal-hal syubhat yang sangat berpotensi menimbulkan dosa. Demikian ulasan tentang hokum makan siput. Wallahu a’lam bis shawab. []

 

Oleh: Ustaz Tri Bimo S., Lc., M.S.I., Pengajar MAN 1 Surakarta.

Sumber gambar: maswarsito.com

*Pernah dimuat dalam Majalah Smarteen Edisi April 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *