Kepergianmu, Menyadarkanku; Sebuah Cara Agar Tegar Hadapi Cobaan

Kepergianmu, Menyadarkanku; Sebuah Cara Agar Tegar Hadapi Cobaan

MajalahSmarteen.com — Ini adalah kisah tentang masa laluku. Aku berusaha menciptakan sebuah cara agar tegar hadapi cobaan. Dari sini semua dimulai. Jarum jam serasa diganduli malaikat. Bagiku, kajian pagi ROHIS sangat membosankan. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tak ada yang masuk ke pikiran, apalagi sampai masuk ke hati. Kalau tidak karena mas gagah itu, aku tidak berangkat.

Aku clingakclinguk mencari mas gagah. Tidak ada. Hatiku bertanya, apa dia absen hari ini? No way. Dia kan ketua ROHIS, mana mungkin absen kajian. Dia selalu hadir tepat waktu. Mengapa kali ini tak kunjung datang? Berjuta tanya menghinggapi benakku.

Sementara, Pak Ustaz yang sekaligus pembina ROHIS masih melanjutkan tausiah. Tiba-tiba, terdengar suara, Assalamualaikum. Hah, suara itu sangat tidak asing bagiku. Suara khas yang indah memasuki telingaku dan seketika membuat seluruh syaraf tubuh ini bersemangat 45.

Kuarahkan pandang padanya sekilas. Kubenahi cara dudukku. Kurapikan jilbabku berharap dia melihatku, barang satu detik. “Afwan, saya terlambat, tadi ban motor bocor di jalan,” katanya pada forum.

Entahlah, sumpah, salah tingkah. Muncul rasa khawatir dan penasaran. Bagaimana bisa motornya bocor? Kena paku? Apakah dia sampai jatuh saat motornya bocor? Saat sampai mana motornya bocor? Apa di tengah jalan raya? Terus kalau tertabrak gimana? Apakah dia membawa motornya ke bengkel?

Kalau seperti di film kartun, kepalaku sudah muncul tanda tanya beribu, thuing thuing thuing…. Haduh, rasa penasaran dan khawatir bertubi-tubi menyelusup pada diriku. Mungkin aku lebay, tapi itulah yang kurasakan.

Reza Raditya Pratama. Ya, dialah sebab aku menciptakan cara agar tegar hadapi cobaan ini. Dalam anganku, dia kusebut sebagai mas gagah. Dia kelas XII SMA, sementara aku baru kelas X SMA. Jika ditanya alasannya, aku tidak bisa menjawab, mengapa hadirnya selalu membangkitkan semangatku dalam berdakwah di sekolah.

Jam 10 malam

Telelet…handphone berbunyi. Tanda ada pesan singkat masuk. Dengan menahan kantuk, kubuka inbox  itu. Dari Lala, teman sebangkuku. “Rin, mas Reza kecelakaan. Skrng drawat d RS”.

Kukucek-kucek kedua mataku berpuluh kali. Ku ulangi membaca pesan singkat itu sampai lima kali. Mungkin aku salah baca karena mengantuk. Ternyata aku tidak salah baca!

Seketika, kutelepon Lala. Aku langsung minta tolong bapakku untuk mengantar ke rumah sakit. Setengah jam perjalanan.

 

Kulihat Pak Mansur pembina ROHIS sudah berdiri di depan pintu UGD. Beberapa guru kelas dan teman-teman ROHIS berjajar. Juga orang tua Reza. Wajah mereka sendu.

Aku langsung mendekati Pak Mansur. Aku bertanya banyak hal tentang Reza. “Pendarahan di kepala. Kata dokter, sangat kritis.”

Bulir kristal bening membasahi kedua pipiku. Aku bersandar di dinding rumah sakit. Badanku lemas. Mungkin aku paling dramatis di antara yang lain. Hingga orang tua Reza mendekatiku. Saat itu, aku belum menemukan cara agar tegar hadapi cobaan.

Keesokan harinya

Di kelas, pembicaraan semua siswa bertema tentang kecelakaannya Reza semalam. Kedua mataku seperti mata panda karena semalam banyak menangis.

Di jam kedua, mata pelajaran Fisika. Beberapa saat kemudian, pak guru mengabarkan kalau Reza tidak tertolong. Innalillahi wa inna illahi roji’un. Hatiku seperti dihantam batu satu ton. Kami semua takziah.

Aku sulit menggambarkan bagaimana keadaan di rumah Reza saat itu. Hanya pilu yang bisa kukatakan. Mas gagah telah pergi untuk selamanya. Semuanya telah tertulis di Lauhul mahfudz. Termasuk hari kematian Reza itu.

Berulang kali kuhirup napas panjang untuk menenangkan dan menegarkan diri. Sambil hatiku tak berbenti berdoa kepada Allah.

Sepulang takziah, aku mampir ke sekolah. Hanya untuk membaca ulang artikel Reza yang tertempel di mading ROHIS. Tepat di depan musala sekolah. Sebuah kalimat yang nancap di hatiku adalah “Jangan pernah berhenti berdakwah!” Inilah cara agar tegar hadapi cobaan yang pada akhirnya kutemukan.

Kepergian Reza, membuat diriku benar-benar sadar. Percik merah jambu yang kurasakan padanya, tak lain hanya membuat diriku riya. Berbuat agar mendapat perhatian dan pujian darinya. Mengikuti kajian agar bisa bertemu dengannya.

Astagfirullah, betapa kotor hati ini, berbuat bukan karena Allah. Sekarang, aku terbuka hati. Apa yang aku cintai di dunia ini, tidak bisa kekal abadi. Hanya Allah Swt yang kekal abadi. Sudah sepatutnya berbuat karenaNya, bukan karena makhlukNya.

 

Oleh: Najwa Aulia, Depok

Sumber gambar: timpacker.com

*Pernah dimuat dalam Majalah Smarteen Edisi April 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *