Rimpu Tradisi Syar’i

Rimpu Tradisi Syar’i

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Ahzab: 59)

Ayat al-Qur’an di atas menganjurkan bagi perempuan muslim untuk mengenakan jilbab. Kini jilbab lebih populer disebut dengan hijab yang memiliki ragam dari jenis bahan, motif maupun modelnya. Orang banyak mengira jilbab muncul dari budaya Arab saja. Namun siapa sangka, ternyata berjilbab ini sudah ada di Nusa Tenggara Barat sebelum agama Islam menyebar ke Indonesia.

Rimpu, salah satu tradisi cara berjilbab masyarakat Desa Kore, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, khususnya untuk perempuan. Rimpu ini terbuat dari 2 lembar kain songket yang dililitkan kepala. Dilansir travel.detik.com pada Jumat (23/9/16), “Tradisi memakai penutup kepala (rimpu) ini sudah ada jauh dari sebelum Islam masuk ke sini,” kata Ketua Pemuda Adat Sanggar, Ayaturrahman.

Pakaian seperti rimpu ini tidak jauh berbeda dengan jilbab yang diajarkan dalam agama Islam. Ternyata, budaya berhijab syar’i ini sudah ada sejak dulu. Longgar dan dapat melindungi diri karena tidak hanya menutupi kepala, namun kain ini menutup hingga setengah badan sehingga lekuk tubuh tidak terlihat.

Dilansir travel.detik.com pada Jumat (23/9/16), seorang ibu asal Bima berkata, “Kami menganggap tubuh wanita mendapat penghargaan setinggi mungkin, maka kami mengenakan penutup tubuh seperti ini. Cara memakainya tertutup sebadan dan tak menggunakan peniti atau jarum pentul.”

Tentunya penghargaan ini juga sudah tersampaikan dalam al-Qur’an yang bahwasanya wanita mampu menutup auratnya seperti perhiasan yang indah.

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (QS. Al-A’raf: 26).

Rimpu terdiri dari 2 lembar kain songket yang cara pemakaiannya dililitkan ke arah kepala dan muka. Ujung lilitan dikaitkan pada kepala sehingga tidak menggunakan peniti. Jika lilitan kendur, sarung tinggal dipelintirkan hingga mencapai lilitan yang kencang.

Jenis rimpu ada 2 jenis yaitu rimpu nae (mpida) dan rimpu sampela (colo). rimpu nae diperuntukkan untuk perempuan yang belum menikah. sedangkan rimpu sampela diperuntukkan untuk perempuan yang sudah menikah. perbedaannya jenis rimpu terlihat pada cara pemakaiannya. jika rimpu colo menutup kepala namun terbuka wajahnya, maka rimpu mpida seluruh kepala tertutup oleh kain kecuali bagian mata seperti cadar.

Rimpu juga memiliki berbagai motif seperti nggusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli.

Tradisi memakai rimpu ini sudah hampir punah karena rata-rata wanita disana sudah mengetahui jilbab sebagai penutup aurat yang lebih praktis. Namun pemerintah Kota Bima tetap melestarikan rimpu agar tetap diingat masyarakat dengan mengadakan kegiatan pentas Kareko Kandai semacam tarian yang dilakukan para saat panen tiba.

Pada tradisi yang lebih lama, pemerintah mewajibkan wanita memakai rimpu saat keluar rumah. Nur Farhaty Ghani dari Forum Perempuan (Forpuan) Bima mengatakan bahwa seorang wanita akan dianggap melanggar hukum adat dan keagamaan jika tidak memakai rimpu. Dengan menjalani tradisi selama bertahun-tahun ini, mereka yakin dapat meningkatkan popularitas keagamaan.

Setelah mengetahui rimpu, kita jadi memahami ternyata jilbab syar’i memang sudah ada di Indonesia bahkan sesuai dengan tradisi ketimuran. Semoga dengan munculnya model jilbab kekinian, kita tetap memperhatikan agar jilbab yang dikenakan syar’i.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *