Jadilah Bintang, Jangan Jadi Asap

Seorang penyair ternama, al-Mutanabbi (di versi lain dikatakan Abdul Jalil Thobathoba’i) mengatakan, “Rendah hatilah niscaya kau menjadi seperti bintang terang saat memandang, sekalipun ia (bintang) di dasar (bayang) air, tetapi hakikatnya adalah tinggi. Dan jangan menjadi asap, sekalipun ia membumbung tinggi ke angkasa tetapi hakikatnya adalah rendah.”

Orang yang rendah hati diibaratkan seperti bintang, sangat terang, dan terletak di tempat yang tinggi sebagai sebuah konotasi kemuliaan. Sekalipun bintang-bintang tersebut terpantul berada di bawah dasar air, tetapi hakikat dari bayangan tersebut berada di ketinggian. Orang rendah hati yang bisa menahan sifat congkak, tidak jemawa, tidak pamer di hadapan orang lain. Sekilas dia seperti terlihat ‘rendahan’. Seorang direktur di sebuah perusahaan, mempunyai ratusan anak buah tetapi dia rela memungut sampah, bagi sebagian orang mungkin sekilas melihat hal itu sebagai sesuatu yang rendah, tetapi hakikatnya justru menunjukan ketinggian budi pekertinya.

Sebaliknya, jangan seperti asap. Asap itu membumbung tinggi dengan sendirinya, ia memang menuju ke langit, tetapi sebenarnya ia merupakan benda yang tidak berkualitas, bahkan bila asap terlalu banyak menggumpal di atas justru akan menjadi malapetaka. Orang sombong dan jemawa diibaratkan seperti asap, dia pamer apa saja yang dia miliki di hadapan orang lain. Pamer karena keturunan darah biru, pamer jabatan yang tinggi, dan harta yang banyak. Sekilas orang tersebut mungkin terlihat tinggi berwibawa, tetapi sebenarnya hakikatnya dia berkelas rendahan.

Sobat, sekalipun sikap rendah hati dan sombong merupakan ranah batin, kadang sifat tersebut tampak dari aktivitas lahir kita, maka berhati-hatilah dalam menggerakan anggota tubuh kita. Allah sendiri melarang hambanya untuk menjuntaikan kainnya karena kesombongan. Dalam etika berjalan, Allah pun berfirman wa la tamsyi fil ardhi marahan, dan janganlah kamu berjalan dengan gaya yang sombong (Q.S. Luqman (31): 18). Oleh karena itu mari kita mengontrol gesture atau gerakan tubuh kita, apakah kita sudah bergerak karena rendah hati, atau ada gerakan-gerakan yang didasari unsur kesombongan?[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *