Jadikan Dirimu Solusi!

Para pendahulu Islam banyak berkontribusi untuk dunia dan agama. Kontribusi tersebut banyak yang menjadi tangga awal bagi penemuan baru selanjutnya. Sedangkan di zaman sekarang, terkhususnya pemuda justru kurang memiliki greget untuk berkontribusi.  Yuk, kita cari tahu gimana caranya agar bisa berkontribusi bersama Eko Yulianto, pemuda asal Wonosobo, Jawa Tengah yang menjadi penemu Kiebae, kopi biji salak.

Sejarah Islam mengajarkan umatnya untuk berkontribusi, menjadi seorang penemu yang bermanfaat bagi yang lain. Benarkah demikian?

Islam mengajarkan kita untuk bermanfaat bagi orang lain. Menjadi penemu masalah orang lain terus kita yang memecahkan. Jadi fokusnya what is the problem? Lalu apa yang harus kita selesaikan. Intensinya di masalah orang lain, kita yang nyelesein.

Apakah mungkin generasi remaja saat ini bisa meniru tokoh muslim zaman dulu yang menjadi penemu?

Sebenarnya bisa banget, malah lebih (bisa – red). Kita fokusnya mau di mana? Kalau para pendahulu kita itu kan fokusnya di masalah. Misalkan ada teman saya dari Boyolali, namanya pak Sumianto. Nah, dia fokusnya ke masalah. ‘Kok motornya boros’. Jadi dia menemukan magic ring, semacam alat penghemat bahan bakar.

Apa motivasi Kakak ketika berusaha menemukan kopi dari biji salak?

Kalau saya pribadi mungkin juga karena menemukan masalah di kampung saya. Petani salak banyak, itu memunculkan masalah baru. Jadi gimana caranya menaikkan “harkat” si salak itu tadi. Yang harganya murah, tetapi bagaimana caranya ketika salak sampai nggak terpakai masih ada manfaatnya.

Apakah berinovasi hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang jenius (cerdas) saja?

Enggak juga. Kalau berinovasi itu hanya untuk orang jenius, berarti saya nggak bakalan bisa berinovasi. Hahaha. Makin seru yaa ternyata, biar gag penasaran lagi. Langsung beli majalahnya yaa 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *